Rabu, 15 Juni 2016

Makna Filosofi Gunungan Dalam Pewayangan

Gunungan atau kayon dalam pewayangan melambangkan berbagai hal, dapat berupa ombak, api, angin, gunung, pohon besar, dan sebagainya. Namun, gunungan sebenarnya melambangkan pohon kehidupan, diambil dari istilah Arab Khoyyu yang artinya hidup. Pohon kalpataru bercabang delapan menggambarkan sangkan paraning dumadi. Pohon yang tergambar sebagai bentuk dasar gunungan adalah pohon nagasari, yang selain indah bentuknya, juga menggambarkan pengaruh baik bagi orang di sekitarnya. Sedangkan pohon digambarkan sebagai perlambang yang melukiskan pohon dewandaru, pohon ini membawa pengaruh keabadian atau kelanggengan. Bentuk gunungan di masing-masing gagrag atau gaya wayang berbeda-beda. Sebagai contoh, gunungan pada wayang kulit gaya Yogyakarta berbeda dengan gunungan pada wayang kulit Bali, Cirebon, Surakarta, atau Jawa Timur.

Tentang asal muasal gunungan dalam dunia pewayangan, ada beberapa versi. Ada yang menyebutkan gunungan diciptakan oleh Sunan Kalijaga pada zaman Demak, ada lagi yang mengatakan gunungan sudah tergambar pada lembaran wayang beber yang telah dimainkan rakyat pada zaman Majapahit.

Sumber: Koleksi Pribadi

Selain fungsinya sebagai peraga ombak, api, angin, gunung, pohon besar, dan sebagainya, gunungan juga menjadi salah satu alat komunikasi antara dalang dengan wiyaga atau penabuh gamelan yang mengiringinya. Gunungan juga berfungsi sebagai aba-aba kepada wiyaga, terutama pengendang dan penggendernya.

Gambaran utama gunungan biasanya berupa gapura atau gerbang dengan lima pilar. Seekor harimau dan seekor banteng terdapat di latar belakang. Hal tersebut melambangkan konfrontasi abadi antara segala hal buruk dengan segala hal baik. Sedangkan di latar depan gapura terdapat dua orang raksasa penjaga pintu bersenjatakan gada dan perisai atau disebut gupala.

Sebetulnya, masih banyak peraga-peraga wayang kulit yang sarat dengan makna filosofi. Kepedulian saya dengan dunia wayang kulit khususnya gagrag Yogyakarta terutama karena hobi. Hampir dua puluh tahun saya bersama suami menjadi kolektor wayang. Meskipun saya seorang pustakawan referensi, hal tersebut tidaklah mengurangi ketertarikan saya terhadap dunia pewayangan. Apa hubungan antara pustakawan referensi dengan gunungan? Pustakawan referensi adalah seorang pembimbing langkah dalam mengarungi lautan informasi. Ibarat pohon naga sari yang mampu memenuhi tugasnya yang bermanfaat, pustakawan referensi dituntut untuk profesional dan bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya.
Sumber:
Ensiklopedi Wayang Indonesia, Jilid 2, Jakarta: Sena Wangi, 1999, hlm. 611.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar